Cita-cita Itu

Aku mungkin adalah sebuah software gagal, yang dengan terpaksa harus tetap dikemas untuk dipasarkan. Aku berusaha tampil semenarik mungkin agar bisa diterima dunia, tapi tetap saja sia-sia. Aku disini, ditempat yang baru dimana aku berfikir bahwa aku akan memulai suatu kehidupan yang baru dengan meninggalkan kenangan lama yang selalu mengingatkanku akan kegagalan penciptaanku. Sebuah tempat yang aku sangat berharap besar padanya untuk menjadikanku sesuatu yang jauh lebih baik yang bisa membuatku merasa lebih berarti, berguna untuk orang lain.

Awal perjalananku cukup mengasikkan. Semua seperti mulai dari awal, karena kita tidak saling mengenal satu sama lain. Aku menikmati kehidupanku yang sekarang. Jauh dari control, bukan berarti melanggar, tapi melakukan yang perlu dan berhati-hati. Aku ingin agar tetap dipercaya, karena kepercayaan itu akan sulit didapat jika kita sudah pernah menghilangkan kepercayaan itu.

Aku menjalani hari-hariku dengan suka cita, dengan motivasi bahwa aku akan mejadikan sang programmer sebagai programmer yang mempunyai software yang baik, yang punya daya saing yang tinggi, yang tidak akan kalah dengan software-software lainnya. Meski pada kenyataannya aku hanyalah software gagal. Tapi aku optimis. Orang lain tidak mengenalku, orang lain tidak tahu apa dan bagaimana sebenarnya latar belakangku. Yang mereka tahu, aku adalah software baru, sama dengan mereka.

Dengan keyakinan itu aku berusaha menjalani hari-hariku dengan sebaik mungkin. Langkah ini terasa jauh lebih ringan, karena aku menyukainya. Aku benar-benar melakukan apa yang aku sukai, tentu saja dengan batasan-batasan tertentu. Aku mempunyai banyak teman. Tapi tidak mudah untuk menemukan sahabat, dan aku berfikir bahwa keakraban yang dihasilkan dari persahabatan akan membuat suatu keterikatan yang akan membuat kita bergantung pada orang lain. Jadi, aku memutuskan untuk hanya berteman saja. Tapi akan menjadi lain jika aku menemukan yang dapat memahamiku. Aku jelas tidak akan menolak.

Tidak mempunyai sahabat dekat tentu saja hal yang cukup sulit. bukan hanya tidak ada yang bisa kita mintai tolong tanpa rasa malu atau sungkan, tapi juga tidak ada tepat dimana kita bisa becerita sepuasnya, tanpa beban. Tentu saja apalagi dengan latar belakangku yang mempunyai sahabat karib, jelas lebih sulit. Tapi aku percaya, ada hal lain yang lebih penting, dan sahabat didapat tidak akan semudah kita mendapatkan teman. Membiarkannya berjalan sesuai waktunya.

Seperti apa yang aku niatkan dari awal, aku hanya berfokus pada tujuan awalku, agar sang programmer bangga padaku. Aku berusaha melakukan semuanya dengan sebaik-baiknya, dan aku merasa hasilnya pun tidak terlalu buruk.

Semuanya berjalan baik hingga terjadi hal yang tidak aku inginkan. Aku membuat kesalahan. Bukan kesalahan besar, tapi berdampak besar. Bahkan sangat besar. Rencana yang sudah aku buat, menjadi kacau balau. Kenangan akan masa lalu kembali menghantuiku. Ia seakan terus berbisik kalimat yang sama berulang-ulang, “kamu software gagal???.

Aku merenung, apakah sesuatu yang gagal itu akan terus gagal? Aku rasa tidak. Tapi mengapa aku kembali gagal? Jatuh selalu pada kata yang sama. Aku bosan dengan keadaan ini. Aku sudah berusaha dengan baik, walaupun mungkin belum maksimal, tapi aku yakin sejauh ini akan baik-baik saja. Tapi ternyata tidak.

Sebelum ini, aku memang sudah punya firasat, bahwa kesalahan ini akan berdampak besar. Tapi sisi hatiku yang lain berkata bahwa ini akan baik-baik saja dan akupun berharap demikian. Aku sebenarnya tidak terlalu yakin, tapi aku tidak bisa memperbaikinya. Kenapa? Karena aku takut. Ya, aku takut.

Kesalahan itu terjadi pada sebuah keadaan dimana aku tidak berkonsentrasi penuh terhadap tugas yang sedang aku jalani, dan karena hal itu aku ditegur dengan teguran keras yang membuatku berbalik menjadi antipati. Sebuah keadaan yang membuatku menjadi seorang pengecut sekaligus pembangkang. Aku melalaikan tugas-tugas yang seharusnya aku lakukan. Aku merasa menjadi orang lain. Aku melupakan tujuan awalku. Aku berubah menjadi sosok yang bisa dibilang muak dengan keadaan itu. Teguran keras itu membuatku enggan untuk patuh paling tidak hingga tugas itu selesai.

Ya…seperti kata pepatah, penyesalan itu datang diakhir. Apa yang aku dapatkan saat ini bukan hanya melahirkan penyesalan, tapi juga kata gagal yang sudah aku usahakan hilang itu hadir kembali berulang-ulang. Ya…aku gagal. Tapi aku berharap ini bukan kegagalanku untuk hal lainnya. Tapi pemompa semangat baru untukku untuk meraih kesuksesan yang akan datang.

Seperti niat awalku, aku tidak ingin gagal, tapi ingin berhasil, jadi aku harus melupakan kata itu. Ambil hikmah dari apa yang terjadi, syukuri dan terima. Bagaimanapun juga hal ini sudah terjadi. Lagipula tidak sedikit orang yang gagal berulang-ulang kali, lalu berhasil dengan hasil yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Insya Allah, Allah akan memberikan keajaiban dan keberkahan bagi siapa saja yang mau berusaha. Semoga aku bisa menjadi software yang bisa mengembangkan perusahaan dan programmer yang menciptakanku. Amin. Ayo semangat!!!!!!!

3 pemikiran pada “Cita-cita Itu

  1. Sang programmer selalu menyediakan update-an di jaringannya yang tak terbatas hingga setiap software yang ia ciptakan dapat menuju kesempurnaan. Maka jangan pernah ada kata menyerah, cukup sering-sering mengupdate diri dengan terhubung ke jaringannya yang penuh kemuliaan… Barakallahu fik.

  2. Sang programmer selalu menyediakan update-an di jaringannya yang tak terbatas hingga setiap software yang ia ciptakan dapat menuju kesempurnaan. Maka jangan pernah ada kata menyerah, cukup sering-sering mengupdate diri dengan terhubung ke jaringannya yang penuh kemuliaan… Barakallahu fik.

  3. Insya Allah kak…sebenarnya cerita ini sudah lumayan lama mira buat, karena ada suatu masalah yang lumayan bikin mira jatuh, tp insya Allah sekarang sudah jauh lebih baik..Dan semoga software ini dapat terus update sehingga kualitasnya jauh semakin baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s