Seorang Ummi

 
Ummi terduduk, lagi-lagi menghadap cermin. serasa hendak bercakap-cakap dengan diri sendiri, namun tetap sunyi…
 
Ya..inilah pekerjaannya seminggu ini, hanya memandangi cermin berjam-jam,bercakap tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibir mungilnya..karena mungkin memang bukan dari luar, tapi dari dalam hatinya yang bergejolak, menyesakkan dada..
 

Ikhlas. Kata-kata itulah yang selalu terngiang ditelinganya, namun tak jua mampu ia lakukan.. Berkali2 ia mencoba, dan ia akan kembali terduduk didepan cermin, kembali menatapnya tanpa kata… ***
 
 
Seminggu yang lalu..
 
Sudah satu bulan abi pergi, dan sudah seminggu ini tak ada kabar. yang biasanya tak seharipun abi pernah absen mengabarinya..
 
Dan sebagai seorang istri yang sangat mencintai suaminya, ummi merasa sangat khawatir ketika kabar yang ia dapatkan melalui tetangganya hari itu tidak sampai padanya. Ya.. ia menerima kabar melalui sms yg ia terima dari tetangganya, yang abi kirim melalui handphone sahabatnya. Dan itulah satu-satunya alat komunikasi mereka..
 
Sejenak ia terdiam,ia kembali teringat percakapannya sebulan lalu, sebelum abi pergi..
 
“Mi, sepertinya abi akan pergi lama, dan entah kapan kembali”,ucap abi memulai dengan perlahan.
“Abi mau kemana??”,tanya ummi penasaran.
“Entahlah mi, hanya saja ada sahabat abi yg mngajak abi berbisnis dengan Allah diluar kota sana”, ujarnya dengan tersenyum sembari menatap ummi, ingin tau apa yg ada dibenaknya,”dan abi ingin ummi setuju”, tambahnya.
“Tapi sampai kapan abi pergi? Keluar kota kmn??”, tanya ummi khawatir.
“Itulah yang jadi masalah mi, kata sahabat abi, tempatnya tidak tentu, bisa di Jakarta, bisa di Bandung, dan dikota2 lainnya…”
“Tapi kenapa harus sampai keluar kota, Bi?”, ummi tak rela.
“Coba ummi liat disekitar kita, semuanya Insya Allah sudah ada yang mengurusi, tapi coba ummi lihat daerah-daerah yg lain, masih byk daerah yg tidak tersentuh, tahu tapi tidak paham”, kata abi berusaha meyakinkan.
“Tapi…”
“Abi mohon ummi mengerti…”
dengan pasrah akhirnya ummi mengangguk lemah. meski sedari awal ia sudah yakin bahwa ia tak akan bisa mencegah abi, apapun alasannya. Dan ia sepenuhnya sadar bahwa apa yag akan abi lakukan adalah sebuah kebaikan. dakwah, bisnis yg sangat luar biasa dengan sang Penguasa.
 
Ummi sepenuhnya sadar, ikhlas adalah satu-satunya cara yg harus ia lakukan, karena jika tidak abi pun pasti akan tetap pergi dengan berat hati, dan itu bagai sebuah duri kecil, sakit yang tidak seberapa tapi akan membuatnya tidak tenang. ***
 
 
Berhari-hari masih tetap tak ada kabar dari abi, tp meski begitu ummi tetap bersabar. iya yakin apa yg sedang dilakukan abi adalah semata-mata untuk bekal akhiratnya, dan ia tidak keberatan, karena dengan ikhlasnya ia, berati pahala akan mengalir pula padanya.
 
Namun, setelah seminggu tak ada kabar, mau tak mau ummi cemas luar biasa. Iya yakin, abi tak mungkin setega itu padanya. Membiarkannya digelayuti rindu dan cemas, yang kian hari semakin membesar..
 
Dan akhirnya kecemasan itu terbukti, setelah telepon dari sahabat abi itu diterimanya..
 
Dalam diam ia berdoa, “Ya Allah ini adalah yang terbaik bagiku, dan jadikanlah kehidupan setelah ini jauh lebih baik lagi, dan berilah aku ketabahan dan kekuatan untuk semakin mendekatkan diri kepada-Mu, jadikanlah hamba sebagai hamba-Mu yang bersyukur…”
 
Dengan isak tangis yang tertahan, ia harus kembali ikhlas karena ia harus bertahan untuk kehidupan sang bayi dirahimnya. Peninggalan abi yang terakhir sebelum ia pergi untuk selamanya, yang bahkan tidak sempat ia kabarkan keberadaannya….
 
 
*Cerpen dadakan, hasil karya paksaan. Semoga tidak mengecewakan🙂

6 pemikiran pada “Seorang Ummi

  1. hihi..paksaan kak adi tuk kak ira..ngajak tanding bikin cerpen, eh kak adinya ingkar janji tuh..udah ga di publish, gangguin terus lagi selama bikinnya…kritikannya kak ira, biar bisa lebih baik lagi??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s