Pendakian Merbabu (part 3 – end)

Oke deh, ini the last episode tentang perjalanan ke Merbabu yang sebelumnya di part 1 dan part 2. Begini lanjutan ceritanya…

Jam setengah 1 dini hari, kami dibangunkan. Persiapan perbekalan untuk muncak diserahkan ke teman-temannya mas Gon yang terbilang cukup senior dan lebih kuat membawa beban banyak. Dan karena Imam ga ikut muncak, kami bisa lebih mudah muncak tanpa membawa keril kami yang memang luar biasa beratnya. Berdoa sebelum muncak dilanjutkan penjelasan teknis pendakian untuk malam itu.

1:20 kami memulai lagi pendakian. Mas Gon yang awalnya tidak akan ikut muncak karena akan menemani Imam, batal stay di camp karena melihat kami mendaki jalur yang salah. Karena salah jalur itu, kami seperti membuka jalur baru dan harus merayap ke atas. Beginilah penampakan disiang hari trek yang kami lalui.

  

Tanjakan Ekstrim

Lewat dari trek itu, kami mulai bisa bernafas lega, karena jalanannya lebih landai, dan kami tiba di Sabana 1. Sekitar 1 Km dari Sabana 1, kami mulai menanjak lagi, tapi karena sebelah kanan kami dihamparkan kota Boyolali yang Indah dengan lampu – lampu malamnya (maaf tidak ada fotonya, karena kameranya tidak mendukung), maka menapaki tanjakan itu tidak menyurutkan niat kami untuk sampai puncak, meski perlahan hingga kami tiba di Sabana 2.

    

foto – foto di Sabana 1

   

Tanjakan menuju Sabana 2

Dan ternyata, dari Sabana 2 inilah kami dihadapkan tanjakan yang lebih tinggi dari tanjakan pertama dan kedua. Tetapi karena saat itu gelap, yang kami tahu, pada saat menapakinya, terasa berat dan semakin lelah. Waktu sudah menjelang fajar, cahaya merah sudah mulai menampakan diri. Waktu menunjukan jam setengah 5, dan kami masih belum mencapai puncak!!! T_T

Foto di Sabana 2

Tanjakan menuju Puncak

Karena tidak ingin melewatkan sunrise, maka kamipun mencari tempat yang cukup datar sambil beristirahat dan menunggu sang surya muncul. Lucunya, saya sempat terlelap sebentar dan itu enak sekali rasanya, lelah yang sebelumnya seolah-olah terlepas. Untungnya, pada saat terjaga matahari belum terbit dan saya tidak melewatkan sunrise yang memang kami tunggu-tunggu.

Dan perlahan, cahaya kemerahan yang terbentang ditimur itu menampilkan cahaya bulat merah yang lebih terang, lebih terang dan semakin terang dan membentuk bulatan yang semakin utuh. Masya Allah begitu indahnya..

Kemudian cahaya perlahan semakin terang dan kami bisa melihat keindahan pemandangan sekitar dengan lebih jelas. Berfoto dibeberapa tempat yang dianggap paling pas untuk menggambarkan keindahan yang sesungguhnya.

Sunrise Merbabu

Setelah puas, kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Jadi teringat kalimat seorang teman: “Cobalah mendaki sekali saja, untuk mengetahui apa yang kami rasakan”. Ya.. hanya dengan mencobanyalah bisa mengetahui secara pasti apa yang kami rasakan. Mengapa kami sampai bela-belain bawa keril besar, jalan berkilo-kilo meter, berlelah-lelah, berpeluh-peluh. Dan sekali lagi ya, untuk ke Surga itu memang tidak mudah kawan. Hehe…

Dipuncak kami berfoto ria kembali, mengluarkan perbekalan kami dan kemudian masak-masak (ini sebenernya yang masak hanya temennya mas Gon :D), minum susu sereal panas, sarapan mie, bahkan ada makan nasi jagung plus ikan asin. Sungguh suatu moment yang langka. Menyenangkan bisa mengenal teman-teman baru dan mendapatkan pengalaman yang berbeda. Dan sampai hari ini, saya belum merasa kapok untuk tidak naik gunung lagi.

Jam setengah 10 pun kami mulai turun dan kami berpapasan dengan beberapa orang yang baru akan naik kepuncak, mereka datang dari berbagai kota. Sesuatu yang luar biasa adalah ada sekelompok orang yang berjalan begitu cepat, bahkan cenderung berlari, padahal trek yang dilalui adalah jalur tanah kering berdebu dan licin. Kami melaluinya dalam waktu 10-20 menit sedang mereka tidak sampai 5 menit sudah ada dibawah. Bahkan melewati kami yang sudah lebih awal menuruni gunung itu.

Jam 11 saya, mba Arina dan mas Lele tiba ditempat camp. Karena kelelahan, saya memutuskan tidur sambil menunggu yang lain yang belum sampai. Meski panas, tapi karena capek bisa juga tidur.hehe… Jam 12 mulai packing dan bongkar tenda untuk persiapan turun.

Karena tidak memungkinkan untuk saling menunggu, saya, mba Cindy dan mas Lele dalam 1 kelompok pada saat turun. Termasuk kelompok kedua yang turun cepat. Kenapa? Karena biar bisa mandi dan solat Dzuhur pada saat tiba dibasecamp. Tentunya ditambah makan siang😀.

Tiba jam setengah 2.20 tiba dibasecamp dan langsung mandi, solat, makan sambil menunggu yang lain. Setelah semuanya selesai mandi dan packing ulang, kami bersiap kembali ke Jogja. Dan tidur selama diperjalanan untuk menghilangkan sedikit kelelahan yang kami rasakan.

Karena ada beberapa orang yang perlu membeli oleh-oleh, kami singgah sebentar. Lalu melanjutkan perjalanan menuju stasiun Lempuyangan dan tiba disana sekitar jam setengah 8. Kami sempat makan malam dulu sebelum kereta kami tiba.

Kereta pun tiba, dan kami masuk dengan tertib. Wow, penumpangnya lebih banyak jika dibandingkan kereta berangkat kami. Tapi ya, karena sebelah saya tidak berpenumpang, saya masih bisa leluasa menggunakan kursi penumpang itu. Hmm.. sedikit kurang puas karena merasa kurang nyaman untuk tidur, akhirnya saya memutuskan untuk tidur ngolong. Berbekal matras yang dibawa, sayapun minta izin kepada penumpang yang ada didepan saya untuk tidur dibawahnya. Mereka tidak keberatan sehingga sayapun memposisikan diri senyaman mungkin. Dan ternyata, bisa masuk sulit keluar, soalnya otomatis yang duduk dikursi kakinya malang melintang ke kursi sebelah. Jadi memutuskan bertahan dibawah, memaksa tidur dan terlelap sampai subuh menjelang😀

Tiba di Senen terlambar 7:20, padahal seharusnya 7:05 itu sudah sampai stasiun Kota. Tapi ya, harus diterima. Dan selanjutnya adalah kembali kedunia nyata, kembali keativitas rutin, bekerja tanpa sempat beristirahat terlebih dulu.

Yups… itulah perjalanan kami ke Merbabu. Lelah ya, bahkan nulis ceritanya aja sampai sebegini panjangnya. Mau upload fotonya nda sempat. Nanti mira update lagi. Tapi ya meski lelah, tetap Menyenangkan dan Luar Biasa!!!

NB: Semua foto diambil pada saat pulangnya atau lebih tepatnya pada saat turun. Karena pada saat nanjak itu kondisi masih gelap dan kamera tidak mendukung.

48 pemikiran pada “Pendakian Merbabu (part 3 – end)

      1. Hehe.. banget mba.
        Kalau pas nanjaknya itu, rasanya udah pengen ninggalin tas rangselnya berapa kali saking beratnya.
        Tapi kalau ga dibawa, ga bisa ganti, ga ada minum, jadinya diangkut sampe atas.

        Setelah sampe puncak, ga kerasa kalau nanjaknya udah luar biasa. Udah males pulang jadinya.hehe…
        Dan ga kapok naik gunung😀

      1. hehe..yg penting: keril (tas rangselnya), sendal/sepatu gunung, sleeping bag..
        sisanya: matras, pelindung siku, sarung tangan, sarung kaki, nesting, kompor, tenda.. hehe… terserah sih, sisanya itu ga harus, tergantung keperluan aja. Selama ada yang lain yang bisa bawa😀

    1. Bisa kapan aja tergantung maunya🙂

      Kalau mau lihat Sabana yang menguning, datanglah disaat kemarau. Kalau mau lihat yang hijau, datanglah pada saat musim hujan, tapi yang intensitas hujannya sudah tidak terlalu sering🙂

      1. itu HONEYMOON namanya mbak…… hehehehe… kalo honeymoon ke Lombok atau Raja Ampat aja mbak…..
        Udah punya calon ya? hehehe…. (pertanyaan yang ini boleh di jawab lo mbak) hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s