Pelangi dalam Sepotong Gulali (Part 5)

Pelangi

Cerita sebelumnya karya dari mba Ayana ada Saving My Memories ya…

Teman seperkerjaannya tadi yang mengiriminya pesan. Ia mengabari bahwa Daniel, si tikus culas itu akhirnya mengaku kalau itu bukan karya miliknya, tapi milik Andrian. Sungguh mengherankan mendapat kabar ini baginya, padahal belum 1 hari berlalu ketika Daniel dengan tampang tidak berdosanya mengaku-ngaku itu karyanya. Karena hal itulah Andrian memutuskan kembali ke kantor untuk mengetahui kejelasan berita itu.

3 tahun sudah perusahaan penerbitan yang cukup terkemuka di Jakarta itu mempekerjakannya sebagai Desainer Grafis. Sedikit banyak, ia menyukai pekerjaannya. Terlebih lagi karena ia masih punya waktu untuk sesekali menulis.

Andrian tiba di kantor jam setengah 6 sore. Cukup sepi. Tapi masih ada beberapa orang, termasuk pak Rowny dan Daniel. Sepertinya Daniel baru saja di panggil keruangannya. Lalu tak sengaja Andrian dan pak Rowny bertabrakan mata. Menyadari kedatangan Andrian, pak Rowny bangkit dari duduknya dan melambaikan tangan meminta Andrian untuk masuk ke ruangannya.

Di Ruangan itu Daniel hanya menunduk.

“Sini Andrian, duduklah”, titah pak Rowny. “Saya rasa kamu sudah tahu mengapa kalian berdua ada disini kan?”, sambungnya.

Andrian hanya mengangguk.

“Sekali lagi, saya tidak mengerti jalan pikiran kamu Daniel!! Mengapa kamu bisa berpikir bisa sukses hanya dengan mengaku-ngaku kalau naskah ini karyamu, hah!!”, cecar pak Rowny ke Daniel.

“Saya minta maaf Pak, saya khilaf. Saya hanya berfikir bagaimana caranya agar saya bisa merasakan bagaimana menerbitkan sebuah karya. Maafkan saya Pak, Andrian!”, kata Daniel sambil sesekali melihat ke arah Andrian.

“Kamu pikir, kamu akan merasakan kepuasan dengan menerbitkan buku dengan namamu tapi bukan karena kerja kerasmu?” pak Rowny menghela nafas. “Untung saja saya melihat Authors dari propertis file ini. Selain itu, ada watermark yang sangat samar untuk setiap halamannya. Kalau saya tidak temukan, kapan kamu akan mengaku?” pak Rowny benar-benar merasa geram terhadap Daniel. Terlebih lagi karena ia merasa bersalah karena sudah memarahi Andrian pagi ini. “Karena hal ini, saya skors kamu satu minggu. Kamu gunakan untuk intropeksi diri. Tidak akan ada rasa puas untuk sebuah kesuksesan tanpa perjuangan. Terlebih lagi kalau kamu dapat dengan hasil curang! Mengerti kamu??! Sudah, sana kembali ket empatmu!”, lanjut pak Rowny bijak.

Kemudian Daniel pun keluar ruangan dengan lesu. Ia menyesal. Ia membenarkan ucapan pak Rowny, tidak ada kepuasan dari sebuah kecurangan, yang ada hanyalah rasa malu dan penyesalan.

Sepeninggal Daniel, pak Rowny melanjutkan hal yang ingin ia sampaikan pada Andrian.

“Karena saya sudah berprasangka buruk, maka sebagai permintaan maaf saya, saya akan terbitkan naskah kamu ini dengan beberapa kekhususan. Gimana?” tawar pak Rowny yang tentu saja membuat Andrian kegirangan.

Sebuah kebahagian yang datang dengan dengan cepat setelah kekecewaan sebelumnya yang datang dengan cepat pula. Entah mengapa, yang terlintas dipikirannya adalah Dara. Gadis mungil polos yang ingin ia bagi cerita tentang hidupnya. Tentang kebahagiaan yang baru saja ia rasakan ini.

Kemudian pula, ia jadi teringat tentang Gulali warna pelangi yang mempertemukan keduanya.

“Mengapa tidak kutulis jadi cerita?” pikir otak Andrian cepat. “Ya, ide yang bagus!!”, lanjut otaknya saling bersahutan. Ia tahu kejutan apa yang bisa ia berikan pada Dara.

Selanjutkan akan oleh mba Masya di Lady in The Red.

Baca Ketentuannya

24 pemikiran pada “Pelangi dalam Sepotong Gulali (Part 5)

  1. non, revisi dikit yaa..
    awal: “Sebelumnya di Saving My Memories”
    akhir: “Next on Lady in The Red”
    trus coba cek lagi kata-katanya, kayaknya ada yang berulang, nama Andriannya juga ada yang kurang n.

    good job say, bagus dech ceritanya, keliatan kalau bukan pertama kalinya bikin fiksi.
    lanjutkan!!!😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s