Bawa ASIP saat Umroh, Mungkinkah?

Alhamdulillahirabbil’alamin akhir bulan Februari lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Baitullah. Saya pergi dengan suami dan ibu mertua.

Sebelum berangkat saya lumayan galau. Perlukah saya memompa ASI disana? Hasilnya perlu dibawa pulang atau dibuang? Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk 9 hari? Jujur, saya belum ada pengalaman bawa ASIP keluar negeri. Kalau bawa ASIP saat pergi-pergi sih sudah beberapa kali waktu masih ngASI untuk Khayla.

Penerbangan kami tidak langsung ke Jeddah, melainkan transit di Malaysia (KL). Begitu pun dengan pulangnya. Jadi waktu perjalanan kami lebih lama dari seharusnya. Inilah yang sedikitnya membuat saya khawatir untuk ketahanan ASI saya. Tapi alhamdulillah Raffa masih mau minum ASIP ini yang artinya kondisinya masih cukup baik.

Cooler bag
Cooler bag dan perintilannya

Berikut perlengkapan yang saya bawa untuk stok ASIP:

  1. 1 buah cooler bag ukuran sedang. Cooler bag ini adalah tas yang biasa saya bawa sehari-hari selama proses stok asip. Jadi yang ada dirumah saja yang saya bawa. Sempat terfikir untuk bawa cooler bag yang lain, tapi sayang space kopernya kalau ternyata nanti tidak terpakai, jadi akhirnya saya cuma bawa 1 saja.
  2. 1 set alat pompa dan botolnya.
  3. 2 pax plastik ASIP kapasitas 250 ml isi 20 pcs. Ini saya beli plastik baru, karena sehari-hari saya pakainya botol kaca. Saya menghitung kasar dari ASIP yang biasa saya dapat. Perhari saya dapat 2-4 botol @ 100 ml. Saya juga sempat kurangi periode pumping agar hasil pumping tidak terlalu banyak. Menjaga agar saat disana saya tidak harus terlalu sering pumping. Perhitungan saya kalau perhari dapat 400 ml, maka saya akan bisa membawa pulang ASIP sebanyak 3600 ml atau 36 plastik @ 100 ml. Ini lumayan banyak juga dan saya positif thinking aja kalau itu semua bisa muat di cooler bag saya. Hehe..
  4. 2 ice gel. Karena pada saat berangkat cooler bagnya saya masukkan ke koper, jadi ice gelnya tidak dalam keadaan beku.
  5. Antiseptik.
  6. 1 buah tissue kering.
Set Alat Pumping
Tampilan dalam cooler bag

Saya transit cukup lama di KL, tapi karena alat pumping saya masukkan ke koper, jadi saya tidak bisa menggunakannya. Karena hal itu, setibanya di Jeddah kondisi PD saya sudah bengkak parah. Saya baru bisa pompa hampir setelah rombongan istirahat di sebuah rumah makan Waroeng Bakso Mang Oedin. Disana sebenarnya tidak ada ruang pumping, tapi alhamdulillah gudangnya bisa jadi tempat saya ngumpet buat pumping. Malam itu saya langsung dapat 500 ml. Karena menunggu pagi disana saya jadi sempat menitipkan ASIP saya di frezer mereka.

Meski tidak dalam kondisi beku, ASIP masih bisa dibekukan pada saat sampai di hotel yang Alhamdulillahnya tersedia kulkas di kamar. Jadi saya juga bisa lebih fleksibel untuk pompa.

Selama disana, karena jadwal dan aktifitas lumayan padat. Jadi selama PD belum penuh, saya belum pumping. Dan karena frekuensi pumping saya yang berkurang, maka ASIP yang saya hasilkan pun tidak terlalu banyak. Total ASIP yang saya bisa bawa pulang adalah 12-14  pcs (saya lupa hitung) dengan kapasitas 100 ml/pcsnya dan pas sekali dengan kapasitas cooler bag saya.

Dari pengalaman saya kemarin, bandara di KL sangat protektif sekali terhadap cairan. Bahwa cairan yang boleh dibawa masuk ke kabin tidak boleh lebih dari 100 ml. Padahal setelah cek bawaan untuk keruang tunggu banyak yang jualan makanan dan minuman. Ini saya agak sedih karena 1 botol air zamzam saya harus ditinggal. Meskipun begitu, saya bersyukur karena ASIP saya bisa lolos. Saya agak kurang paham sih, ini memang diperkenankan atau kelewat, karena pada saat cooler bag saya lewat di mesih x-ray, tas saya yang lain, kedapatan cairan yang lebih dari 100 ml. Ternyata itu sari kurma saya yang sudah tinggal setengah. Ya, mau ga mau akhirnya saya relakan saja sari kurma itu ditinggal.

Saran saya, untuk lebih amannya kalau pesawatnya transit dulu sebaiknya ASIP langsung disimpan didalam koper saja. Karena di bandara juga tidak ada kulkas untuk menjaga kondisi ASIP tetap beku. Insya Allah ASIP yang sudah mencair sekalipun selama masih dingin, dia masih bisa bertahan. Setelah sampai langsung saja diminumkan ke anaknya.

Demikian pengalaman saya membawa ASIP, semoga bermanfaat.

Iklan

3 thoughts on “Bawa ASIP saat Umroh, Mungkinkah?

    1. Khawatir ASInya stop mba kalau ga dipumping sama sekali. Selain itu lumayan nambah-nambah stok dirumah walaupun sedikit. Lumayan menguras stok soalnya kemarin itu. Sekitar 70-80an botol yang terpakai..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s