Mendung

2

Mendung…
Bahkan sebuah senyumpun
tak setulus biasanya
Tersapu angin duka
Yang mengiringi kerjapan mata pagi ini…
Continue reading “Mendung”

Iklan

Mah, Bukan Ku Tak Rindu

Kembali menemui senja
Yang membiarkan ku duduk termangu.
Antara ragu, kesal, dan mungkin rindu..

Mah..
Aku tau bahwa kau rindu kabarku, jua aku tentangmu
Tapi ada kebisuan yang sedang kubangun agar engkau tak kecewa,
Kecewa pada anandamu
atau pada waktu yang belum mampu beri mimpimu..

Mah..
Ku tau mempercayakan sesuatu padaku tentu bukan hal mudah,
Terlebih karena ku masih manja,
Asal – asalan dan semaunya
Tapi, bukankan dengan ini aku akan belajar? Dan semakin mengerti arti petuahmu selama ini?

Mah..
Ridhomu tiada duanya..
Yang mengabulkan setiap do’a, yang mewujudkan setiap asa.
Andai kutak pulang segera setelah ini, yakinlah bukan ku tak rindu.
Tapi karena ku tak hendak segera mengadu..
Izinkan ku dewasa dengan caraku..

Jakarta, 28 Februari 2013
Nyoba-nyoba post via BB

Puncak, Pagi ini

Puncak, berkata tentang indah
berkata dengan dingin
berkata melalui kesejukannya

Membersamainya pagi ini
terkenang
akan sebuah kenangan
yang sesaat kemudian menghilang

seperti angan
hijaunya menyejukkan pandangan
sepakat dengan kenyataan
yang dihirup
adalah buah keinginan

tempat ini, beberapa kali dilewati
tapi baru kali ini, menyempatkan raga tuk singgah
menyaksikan yang indah
sayangnya terasa kosong karena seorang diri

Sebab lain karena ada janji yang tlah terucap
Hingga akhirnya, cukup dengan memuaskan mata
bersyukur atas karunia-Nya
dan membiarkan menghirup kesegarannya
kemudian melaju kembali

Semoga akan ada kesempatan lain
untuk menemaninya saat senja
atau saat fajar
ketika riuh terusir
dan keramaiannya menyingkir
Ya.. suatu hari nanti, tentunya tidak sendiri

Puncak

Sendu Biru

Dan diantara kegelisahan ini tentulah ada penghujung
Berupa semburat biru yang menangkan
Atau serupa jingga yang tenggelam dengan khidmatnya

Maka izinkan aku mengarungi ini lebih dari sekedar mimpi
Melewati asa yang meski terlalu tinggi
Agar ada yang setidaknya melegakan

Ingini kembali, apa-apa yang hilang sebelumnya
Cahaya kemilau yang menjelma bintang dikala malam
pun mentari ketika siang

Bahkan dengan harap
Nan khusyu’ ingin kupetik agar yang didamba ini
suatu yang diyakini ini,
menemui ujung yang indah

Lalu penuhi hati
dengan kelapangan andai ini tak seindah yang diharapkan
Karena yang percayai, adalah ini terbaik tuk dijalani

Ceracau

Bukankah wajar ada amarah ketika sebuah janji tak terpenuhi?
Dan bahkan untuk bertemu saja rasanya muak.
Bukan karena seseorang itu tak pantas untuk dimaafkan,
hanya saja kekecewaan yang mendalam
sudah terlanjur terpatri dengan kuat

Bahkan hingga saat ini,
Dipenghujung pengharapan
Berita bahagiapun tak kunjung datang.
Bukankah sudah kupenuhi apa yang kau inginkan?
Lalu apa yang menghambatmu untuk sekali lagi menundanya?
Atau justru mengingkarinya?

Lelah sungguh…
Andai semuanya belum terjadi,
Tentu tak kuberikan pengharapanku ini padamu.
Tapi karena sudah terjadi,
Setidaknya penuhilah
Mungkin saja, kita masih bisa bersahabat pada akhirnya…

Hujan

Hujan malam ini menahanku dipersimpangan
Enggan pulang rasanya..
Ada banyak pertanyaan yang kadang terselesaikan dengan hening
dengan kesendirian

Sunyi itu menenangkan
karenanya ku suka
entahlah, karena rasanya ia mengenyahkan gundah
menceritakan mimpi indah..

Dan lalu perlahan hujan reda,
pertanda tlah tiba masa kembali alam nyata
dari berbagai bimbang ataupun segala senyap yang diimpikan
saatnya menunaikan tugas dunia yang tak ada habisnya